Review Film bioskop Cinta Pertama, Kedua Dan Ketiga Cinta Yang Sepatutnya Saling Mengalah

0 Comments

Film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga , mulai tayang di bioskop terhitung hari ini. Deretan pemainnya yang meliputi antara lain Angga Yunanda, Putri Marino, Slamet Rahardjo Djarot, Ira Wibowo, serta Elly D Lutan akan memperlihatkan sudut pandang mengenai keluarga yang berbeda. Film ini yakni film yang pertama kali diproduksi oleh Wahana Kreator bersama Starvision pada masa awal pandemi 2020.

Film ini mendiskusikan mengenai bagaimana slot minimal depo 5k nantinya bila anggota keluarga karena usia terkena penyakit degeratif, yang akan mengubah perilaku, pemikiran sampai nalar sehingga dapat menganggu fungsi keluarga saat situasi normal.

Ini memberikan sudut pandang bagi generasi yang pada saatnya mesti menjadi tulang punggung keluarga , dikarenakan perjalanan waktu, serta bagaimana kesiapan mereka dalam menghadapi hal ini.

Perkataan saya sudah siap hakekatnya nyaris tidak dapat dikatakan, karena semuanya memang akan terjadi secara tiba-tiba dan tidak akan menyenangkan . Kerumitan, rasa frustasi dan hal-hal tidak positif lainnya, dapat jadi akan bermunculan. Sampai film ini hadir menyebutkan kisah ini, dengan harapan supaya setidaknya ada ilustrasi untuk mempersiapkan diri menghadapi masa itu.

Ini sebuah film keluarga yang merengkuh tiap anggota keluarga, untuk secara aktif memperkenalkan apa yang dirasakannya , secara blak-blak an dan tidak bertele-tele.

Namun tentunya tidak tiap keluarga memiliki hal yang serupa di alami seperti dalam film ini. Bagi mereka, dapat menyaksikan akting menarik dari artis pria papan atas Slamet Rahardjo Djarot, memperlihatkan sosok karakter Dewa, yang perhatian pada si kecil-anaknya dan sudah mempersiapkan sampai jauh hari kebutuhan si kecil-anaknya. Sifatnya ini, dirasakan sungguh-sungguh mendorong bagi puteri-puterinya, namun bagi si kecil lelakinya Raja (Angga Yunanda), ini terasa sungguh-sungguh mengganggu dan tidak jarang ini merusak acara – acara yang hendak ia jalankan, khususnya lagi kedua kakak perempuannya ia rasakan terlalu membatasi. Ketika penyakit datang, Slamet Rahardjo Djarot sanggup memperlihatkan perubahan demi perubahan secara pelan, tanpa akting yang berlebihan. Dibalik sosok dengan kesederhanaan dan perubahan mendasar namun krusial, penonton dihadapkan pada kenyataan bahwa dalam keluarga ini, peran tulang punggung akan diambil alih oleh Raja. Ini tidak memperdulikan apakah Raja sudah siap atau tidak.

Meski dalam keluarga inipun sudah ada sosok nenek Nur ( Elly D Lutan ) yang mesti diurus oleh Dewa, dengan perubahan tingkah laku Dewa, nenek Nur ini malah menjadi tanggung jawab sepenuhnya pula bagi Raja.

Angga Yunanda sendiri masih terlihat agak kewalahan dalam menjalani akting yang tuntutannya berat , namun kehadiran Putri Marino sebagai Asia, terlihat berperan untuk mengingatkan kembali akan unsur apa yang hakekatnya khususnya dalam kekerabatan keluarga, sanggup menguatkan karakter Raja.

Karakter Asia sendiri, berkebalikan dengan karakter Raja, sudah jauh hari mempersiapkan dirinya, akan situasi penyakit yang diderita oleh Ibunya (Ira Wibowo) , sehingga dalam hal ini , ia seolah menjadi tonggak bagi Raja dan pengingat .

Putri Marino berperan sebagai Asia, tidak terlihat memperlihatkan sisi akting yang dapat menjadi golden scene pada film ini. Sangat jauh berbeda dengan aktingnya pada serial Layangan Putus , yang viral pada saat ini.

Diluar ekspektasi yakni penampilan dari Elly D Lutan, yang sanggup menghangatkan perasaan , di salah satu adegan dalam film. Tanpa dialog apapun, penampilannya menghibur dan menceriakan , membawa rasa haru mendalam bagi penonton yang sudah tersentuh emosinya.

Related Posts