one and only

Review Film One and Only, Sengitnya Persaingan di Dunia Street Dance

0 Comments

Setiap orang bisa saja pernah mempunyai mimpi. Namun, apakah mimpi berikut selamanya diperjuangkan atau ditinggal di sedang jalan menjadi kasus yang berbeda.

Malam itu, digelar kompetisi street dance (tari jalanan) yang bergengsi di Provinsi Zhejiang, China.

Riuh pirsawan terdengar semakin keras dikala dua tim yang bersaing, Dance Machine dan E-Mark, saling berhadapan di atas panggung.

Di sedang pertandingan, terjadi kesalahan di dalam formasi tim E-Mark yang membawa dampak salah seorang penari bernama Kevin (Casper Chu) berinisatif “menyelamatkan” timnya.

Merasa bahwa cuma dirinyalah yang mempunyai andil besar di dalam kesuksesan E-Mark, Kevin memiliki rencana lakukan pergantian besar di dalam tim tersebut.

Baca juga:

Rekomendasi Film Anak-anak Terbaik, Bisa Jadi Tontonan yang Seru

Film Terbaik Sepanjang Masa yang Wajib Ditonton

Ia pun memberitahu sang pelatih, Ding Lei (Huang Bo), yang tetap mendambakan menjaga E-Mark layaknya semula.

Sejak sementara itu, Kevin tidak pernah membalas pesan singkat Pelatih Ding.

Bahkan ia termasuk menarik uang sewa aula tempat E-Mark berlatih agar Pelatih Ding mesti melacak uang agar timnya tetap dapat berlatih di aula itu.

Melihat Kevin yang tidak pernah mampir berlatih dengan teman setimnya di aula, Pelatih Ding berinisiatif melacak “pengganti” Kevin sepanjang latihan.

Pilihannya jatuh ke Chen Shuo (Wang Yibo), penari yang sempat mengikuti audisi E-Mark, namun tereliminasi.

Pelatih Ding menawari Chen Shuo posisi “pengganti” dengan catatan ia tidak dapat tampil di panggung. Walaupun terima hal tersebut, Chen Shuo tetap meminta suatu sementara nanti ia menjadi anggota selamanya berasal dari E-Mark.

Proses latihan Chen Shuo dengan E-Mark pun dimulai. Chen Shuo dengan cepat mengambil hati teman setimnya berkat sifatnya yang kooperatif, pekerja keras dan nrima, bertolak belakang dengan Kevin.

Seluruh sistem latihan terjadi dengan lancar hingga suatu hari Kevin mampir menemui Pelatih Ding untuk menawari peluang bertanding di kejuaraan nasional, namun dengan syarat Chen Shuo mesti berhenti berasal dari E-Mark.

Pilihan berikut tentu menyusahkan Pelatih Ding. Di satu sisi, bertanding di kejuaraan nasional merupakan impiannya. Di sisi lain, ia keburu mengagumi Chen Shuo yang berbakat.

Disutradarai oleh Da Peng, film One plus Only lumayan berhasil di China.

Dilansir berasal dari Reuters, Jumat, One plus Only memecahkan rekor sebagai film olahraga domestik dengan penghasilan tertinggi di China, menghasilkan lebih berasal dari 850 juta yuan (sekitar Rp 1,2 triliun).

Selain di China, film ini termasuk ditayangkan di sejumlah negara, pada lain Singapura, Australia, Selandia Baru, Thailand, dan Amerika Serikat.

One plus Only manfaatkan premis yang gampang ditebak pada akhirnya yaitu perjuangan seseorang yang bukan siapa-siapa menuju kesuksesan.

Alurnya gampang dan di beberapa anggota film dijelaskan istilah-istilah di dalam dunia tari, pada lain locking dan waacking, sehingga dapat menunjang pirsawan yang tetap awam dengan dunia street dance.

Karakter Chen Shuo gampang mengambil hati penonton. Ia bekerja keras demi membayar utang keluarganya, namun di sisi lain ia termasuk tetap memperjuangkan mimpinya sebagai penari walaupun bukan di panggung besar.

Tampil di mana pun dan tidak ditonton pun bukan kasus bagi Chen Shuo asalkan ia selamanya dapat menari. Gerakan headspin, misalnya, ia pelajari secara otodidak melalui video.

Sayangnya, awal mula kecintaan Chen Shuo sebagai penari dan latar belakang keluarganya sebaiknya dapat ditampilkan di dalam sebuah adegan, bukan berasal dari penjelasan Chen Shuo, agar lebih “mengena”.

Selain Chen Shuo, cii-ciri Pelatih Ding termasuk menarik perhatian. Ia bukan pelatih yang segera terenyuh dapat perjuangan Chen Shuo, ketentuan yang ia ambil termasuk lumayan logis.